His Hero is Demon

Making Horror A Cheesy Catchphrase Since…Just Now

THE WORSTS & WORSTS OF SUICIDE SQUAD

5 Comments

SS-(0)

Hip-metal awal 2000-an dengan kontroversi cutting-edge Debbie Gibson

Suicide Squad itu ngga bagus.

Jelek malah.

Lumayan jelek.

Sejelek Pacific Rim.

Film ini tuh semacam versi sinema dari lagu Slipknot: bising, heboh sendiri, serta penuh hal-hal “keren” terjadi tumpang tindih tanpa berhasil meninggalkan kesan apa-apa pada yg liat sampai-sampai gue kaga inget mayoritas darinya begitu credit-title-nya muncul di layar. Ibarat bio akun seorang hipster di Twitter, film ini berusaha keras menuhin batas maksimal kuotanya dengan segala hal yg dianggap terkategorisasi sebagai definisi “keren” kekinian. Musik populer, fashion counter-culture, cewe alt-rock pacaran ama cowo bad-boy abusif, cameo dari karakter populer lain di bawah satu brand perusahaan, dll, dll. Pokoknya semua yg dilakuin band-band hip-metal/rap-core periode awal 2000-an di luar sengaja mengeja namanya sendiri dengan salah.

Keseluruhan durasi Suicide Squad kerasa kaya chorus Linkin’ Park, dimana penyanyi yg satu jerit-jerit sementara yg satu lagi bergumam-gumam sementara musik berdentum keras & semua orang lompat naik-turun dalam satu komando kaya serangan klon mainan kuda-kudaan. Sementara itu, tak satu pribadipun di audiens ada yg tau apa sebenernya yg lagi diomongin atau lagi berusaha diceritain. Mereka sekedar ngebagi dirinya jadi dua kubu: sebagian ikutan karena ngerasa itu keren, sebagian lagi ngetawainnya karena ngerasa itu idiotik. Terserah sih orang mau gabung di yg mana…gue sih jelas ada di kelompok kedua.

Dan tadinya gue ngga minat nulis soal ini, soalnya bagaimana caranya menulis soal sesuatu yg cuman seseorang ingat secara parsial? Tapi sang kekasih hati -yg nonton ini bareng gue- sangat ingin melihat resensi gue dari Suicide Squad. Maka gue buka Word & mulai ngetikin 1800-sekian puluh kata-kata tolol di dalamnya, karena apa gunanya seorang lelaki jika ia tak bisa mencemooh sebuah film tolol demi membuat belahan hatinya bahagia?

Maka, bagi satu yg terindah di luar sana, kupersembahkan ini kepada dirinya, karena doi tuh my butterfly…sugarbaby.

 

 

#7 WORST: REASONING

Pasca kematian Superman, pemerintah dilanda paranoid serangan terorisme para meta-humans. Maka untuk mengantisipasinya, mereka mengumpulkan supervillain-supervillain terjahat dalam sebuah fasilitas tertentu untuk nantinya dilepaskan ke masyarakat sebagai kesatuan unit pasukan khusus untuk menangani ancaman tersebut. Ok, bagaimana itu bisa terdengar sebagai ide bagus?  Mayoritas orang ngga mengantisipasi pemerkosaan dengan cara nyuntikin pemerkosa-pemerkosa terburuk pake Viagra lalu ngelepasin mereka  ke dunia untuk menghentikan pemerkosa-pemerkosa lain yg ada di luar sana. Kenapa? Karena mayoritas orang tidak memiliki niat bodoh untuk menghancurkan peradabannya sendiri.

SS-(1)

Mayoritas orang juga mengira ini adalah foto terbaru Annie Lennox

Dan apakah insentif yg diberikan negara kepada orang-orang ini supaya mereka mau ngelakuin tugas yg sama sekali ngga diminta tersebut? Mereka ngga akan dibunuh. Tawaran tersebut terdengar sangat tidak menggiurkan karena bagi sebuah skuadron khusus bernama ‘SUICIDE SQUAD’, “ngga mati” bukanlah sesuatu yg rankingnya tinggi dalam list. Ini pasukan bunuh diri, dikirim dalam kepentingan misi bunuh diri, dan satu-satunya cara mastiin mereka akan melakukan tugasnya adalah dengan ngasih mereka kesempatan untuk tidak mati, yg secara otomatis berarti menggagalkan misi itu sendiri. Siapapun yg muncul dengan ide ini jelas tidak memikirkannya secara matang.

SS-(2)

“Tapi jika kita sebut mereka ‘Suicide Squad’, bagaimana caranya kita membawa mereka lewat sekuriti airport??”

Sekarang, mari anggap bahwa “Suicide Squad” di sini hanya kiasan, mereka sebetulnya ngga dikirim buat mati. Rencana pemerintah ini masih tetap punya plot-hole gede. Mereka bikin kesatuan khusus untuk menghadapi ancaman meta-humans, kesatuan yg terdiri dari gabungan ancaman meta-humans sebelumnya. Jadi, sebenernya rencana mereka adalah menghadapi ancaman meta-humans dengan cara mengirimkan sejumlah potensi baru ancaman meta-humans. Jika potensi ancaman tadi berubah menjadi ancaman baru, rencana pendukung mereka adalah membunuhnya pake remote-control, memastikan mereka jadi ngga punya pasukan buat menghadapi ancaman meta-humans yg niat awalnya dihentikan.

SS-(3)

“Task Force X gagal, masuk ke plan B: KIRIMKAN PASUKAN PANDA!!”

 

 

#6 WORST: THE ENTIRE STUPID PLOT

Berikut ini adalah plot film ini (sejauh yg gue peduli buat inget):

  • Suicide Squad dibentuk untuk mengantisipasi ancaman terorisme meta-humans.
  • “Ancaman terorisme meta-humans” tadi belum eksis
  • Salah satu meta-human di Suicide Squad menjadi teroris
  • Suicide Squad dikirim untuk menghadapi teror anggotanya sendiri

Seperti tampak dalam kerangka sederhana di atas, keseluruhan film ini tidak perlu terjadi jika Suicide Squad dari awalnya ngga dibentuk. Regu “antihero” titular kita ini sama sekali tidak memberikan manfaat apa-apa pada kemanusiaan selain berusaha ngeberesin masalah yg mereka ciptakan sendiri. Fakta tersebut, ditambah mereka merupakan gerombolan manusia berpakaian warna-warni dengan karakter paling boring di luar regu nasional paskibraka Jamaika, bikin gue jadi tak merasa perlu punya empati pada petualangan mereka. Suicide Squad merupakan bentuk bencana lingkungan yg lebih parah dari Godzilla, karena seengganya penciptaan Godzilla masih mengandung unsur ketidaksengajaan.

SS-(4)

Persis seperti karier dari desainer benda tolol ini

Masalah dalam Suicide Squad dibikin secara aktif & dengan kesadaran penuh. Pemerintah punya ide dungu; dengan sengaja bawa seorang dewi iblis Iskandaria berusia jutaan tahun ke peradaban lalu mencoba mengontrol ilmu gaib doi dengan kekuatan lagu hit Celine Dion di tahun ’93. Waktu rencana dungu tersebut jadi lebih berantakan dari background kamar pada selfie seorang cabe-cabean di Facebook, dikirimlah sisa rencana dungu yg sama untuk berusaha membenahinya. Praktis semua orang dalam film ini bertindak berdasarkan buku pedoman menghancurkan dunia karangan Gorgom, hal fiktif terakhir yg gue benci secara segini membara adalah rambut Donald Trump.

SS-(5)

Ini adalah sekali-kalinya seseorang di film ini mengeluarkan ide yg tidak idiot

 

 

#5 WORST: BAD GUY WILL SMITH

Di Suicide Squad, Will Smith berperan sebagai Deadshot, seorang pembunuh bayaran yg, ceritanya, super karena dia berkeliaran pake kostum colongan dari lemari wardrobe Jason X. Menurut riset Wikipedia gue nan ciamik, Deadshot merupakan “supervillain dunia Batman”, tiga kata yg 180 derajat berbanding terbalik dengan “The Fresh Prince of Bel Air”. Tentunya, sebagai aktor, Will Smith mencari nafkah dengan cara berperan sebagai satu karakter fiktif, yg sama sekali tidak harus mencerminkan karakter pribadinya. Namun, tetep aja, apa ada satu iota pun indera perasa dalam diri kalian yg bisa mempercayai Will Smith sebagai penjahat kredibel? Dia Will Smith! Dia punya aura yg hanya sedikit lebih mengancam dari akun video kucing Instagram, mempercayai dia sebagai seorang pembunuh nan trigger-happy tuh nyaris sama mustahilnya dengan mempercayai bahwa Jackie Chan sanggup melatih anaknya jadi juara turnamen karate.

SS-(6)

Gue juga sulit percaya Reverend Run tidak menuntut adegan ini ke meja hijau untuk pelanggaran hak cipta

Lagipula, ngga kaya dia memberi effort apapun pada perannya di sini. Dia tetep ngomong kaya Will Smith, jalan kaya Will Smith, bertingkah kaya Will Smith, juga senyum kaya Will Smith. Sepanjang film, ngga pernah terbersit di kepala gue bahwa dia tuh seorang “Deadshot”, sebuah nama nan jauh lebih hiphop dari yg dipake Will Smith selama dia berkarier di hiphop. Dia megang senjata api sama awkwardnya kaya The Punisher megang benang rajut, maksud gue, apa kalian pernah liat seseorang menodongkan senjata ke musuh dengan wajah kaya dia lagi melihat anak anjing sendirian di jalan sambil dengerin lagu Sarah McLachlan?

SS-(7)

Satu-satunya warga AS turunan Afrika yg bisa nampak lebih tidak nyaman memegang senjata hanyalah Steve Urkel

Level keberbahayaan Will Smith bisa diukur dari bagaimana dia bisa menang Grammy kategori Best Rap Solo Performance sampai dua kali, dan kita semua tau kalo itu adalah sebuah penghargaan yg hanya secara eksklusif diberikan pada musisi kulit hitam yg nampak cukup bersahabat untuk tidak diberhentiin polisi waktu keliatan nyetir mobil mewah di jalan.

SS-(8)

Ini merupakan stance defensif terburuk dalam dunia tinju setelah “nempelin foto mantan pacar lawanmu di jidat”

 

 

#4 WORST: THE GODAWFUL SOUNDTRACKS

Suicide Squad tuh terobsesi pada muter musik dalam volume bass maksimum kaya ia tuh sopir angkutan kota di Makassar. Film ini punya lebih banyak lagu pop multi-genre daripada playlist iPod remaja nan masih mencari jatidiri, dan itu diputar non-stop dalam putaran loop abadi kaya loading screen Sonic The Hedgehog 2006. Ok, gue tau, masang sebuah lagu spesifik tertentu pada sebuah adegan spesifik tertentu bisa membuat adegan tersebut jadi spesial, tapi jika itu terus terjadi sepanjang film, aspek “spesial” tadi jadi sama sekali kehilangan maknanya. Itulah kenapa liat Suicide Squad ngga kerasa kaya nonton film, tapi nyaksiin seorang editor nyambung-nyambungin lusinan trailer selama dua jam. Sekedar kompilasi dari visual-visual “cool” acak tanpa koherensi terjadi silih berganti. Hal terakhir yg beli sedemikian banyak lisensi lagu demi konsep nan sedemikian tolol adalah franchise Guitar Hero.

SS-(9)

Dan terakhir kalinya sedemikian banyak tato buruk ada di satu torso adalah pada Lil’ Wayne

 

 

#3 WORST: THIS. FUCKIN’. IDIOT
SS-(10)

Serius, apa yg dia lakuin di sini??!! Ngga ada apapun yg dia lakuin punya relevansi ama apaan yg lagi terjadi. Kenapa sebuah film ngabisin sejumlah screen-time substansial pada seseorang yg bukan cuma ngga ngasih secuil pun pengaruh ke cerita keseluruhan, tapi juga udah mati di dua versi film Batman sebelonnye? Jika emang DC mau bikin film romantis soal Joker & Harley Quinn ya silakan, judulin itu American Horror Story: Abusive Relationshit atau apa lah, terserah! Cuman pastiin itu ada di luar film yg lagi gue tonton, karena cewe cakep idiot tergila-gila pada seorang douchebag tampan bukanlah sesuatu yg perlu orang bayar buat liat, itu ada di TV gratis tiap kali sebuah infotainment nyiarin berita pernikahan selebritis.

SS-(11)

Adegan ini harus di-take ulang 300 kali karena setiap kalinya selalu ada anggota kru yg ngga sanggup menahan diri untuk tidak menikamnya dengan salah satu pisau itu

Ngomong-ngomong, ini versi The Joker paling menyedihkan yg pernah gue liat seumur idup. Jared Leto ngasih segalanya buat over-akting “psycho” menurut definisi kata tersebut di lirik album-album hip-metal awal 2000-an, nutupin kulitnya pake lebih banyak coretan daripada baju seragam anak SMA di hari kelulusan, tapi masih keliatan lebih ngga mengancam dari Peter Dinklage di dalam kostum Care Bears. Pacarnya aja manggil dia “Puddin’” & dia emang nampak sama lembeknya dengan itu, atau minimal versi miripnya yg kita biasa liat di pampers anak bayi. Sulit menganggap seseorang sebagai penjahat serius jika die keliatan ada pada garis tengah antara “Miley Cyrus ngikutin tutorial make-up Syahrini” dengan “anggota kehormatan Insane Clown Posse”.

SS-(12)

“Zombie David Bowie” ada di posisi ketiga

 

 

 #2 WORST: THE SUPREME WITCH OF GOTH BEER COMMERCIAL

Karena film ini lebih membenci dirinya sendiri daripada Kurt Cobain di album In Utero, main-villain kita di sini adalah vokalis Darkened Nocturn Slaughtercult. Doi terlepaskan dari belenggu TRVE KVLT NORTHERN DARKNESS selama ribuan taun & murka mengetahui anak-anak jaman sekarang lebih memilih untuk dengerin Black Veil Brides daripada REAL GOTH MUSIC. Maka ia memanggil arwah kakaknye: penjahat utama di Guardians of the Galaxy, untuk membantu menghitamkan gelombang udara bumi dalam 2000 tahun kegelapan di bawah rotasi permanen lagu-lagu Evanescence dan kaos band Gildan orisinil.

SS-(13)

Playlist Spotify doi tuh lebih buruk dari apapun yg kita saksiin di film ini

Penjahat generik, dengan plot generik, untuk satu tujuan generik. Itu trinity kesatuan dari tiga hal basi paling menyedihkan sejak album terakhir Green Day. Dengan semua durasi yg diabisin Suicide Squad buat naro The Joker di layar, mereka sama sekali lupa nge-eshtablished antagonis utamanya sendiri. Sang Enchantress ini sama sekali ngga punya karakter, ngga punya kepibadian, juga ngga punya dialog di luar satu pas doi ngobrol pake bahasa fiktif yg ngga ada. Itu ngga kedengeran kaya penjahat utama di sebuah film, tapi nasib para figuran pemeran pasukan orc di Lords of the Ring.  Gue ngga ngerasain apa-apa buat Enchantress. Ngga peduli waktu doi bagian dari Suicide Squad, ngga peduli waktu doi berbalik mengkhianati Suicide Squad, juga ngga peduli waktu doi dikalahin Suicide Squad. Satu-satunya perasaan gue adalah kasian karena doi konon udah hidup sejak dari milyaran tahun cahaya yg lalu, dan selama itu, ngga pernah ada satu orang pun pernah ngasih tau doi sesuatu yg disebut dengan “mandi”.

SS-(14)

Gue suka menemukan pemandangan yg sama tiap harus buang air kecil di WC stasiun KA Kiara Condong

 

#1 WORST: ANNOYING COSPLAY QUEEN

Jujur aja, kita semua tau Harley Quinn merupakan selling-point utama Suicide Squad. Satu-satunya hal yg lebih rutin nongol dari gambar doi dalam marketing film ini cuman logonya Warner Bros. Jadi mereka memberi doi karakter satu-dimensional, yg sebenernya bukanlah masalah kalo “karakter satu-dimensional” yg dimaksud tadi bukanlah “FUCKIN’ ANNOYING”. Waktu Enchantress nyaris ngga punya dialog, Harley Quinn sama sekali ngga pernah berhenti ngomong. Mulut doi menghamburkan lebih banyak konstruksi kalimat ngga berguna per detik daripada Eminem bacain EULA aplikasi Apple Store. Doi bertingkah kaya bocah 12 taun meski sudah cukup umur buat secara legal ngebintangin film bukkake. Hal-hal favoritnya adalah secara konstan bikin semua orang jengkel & pudding, yg ngejelasin kenapa celana hotpants-nye selalu keliatan makin kekecilan tiap lima menit sekali.

SS-(15)

Juga kenapa make-up doi selalu keliatan kaya seorang bocah abis diam-diam ngabisin satu meja rainbow cake sendirian

Kite semua tau kalo keseluruhan eksistensi Harley Quinn di sini adalah karena doi tuh tambang emas merchandising-license. Maka DC ngorbanin nyaris semua karakter lain demi ngasih doi 95% fokus penuh di bawah lampu sorot. Nah, masalah dari meletakan hal busuk di bawah lampu sorot adalah kebusukannya jadi jelas terlihat. Di bawah lampu sorot, Harley Quinn ngga keliatan cool ataupun badass. Doi punya warna kulit kaya doi udah diare kronis selama lima hari, secara konstan ngomong kaya lagi berusaha menyentuh nada-nada tinggi Bohemian Rhapsody, berkelahi kaya doi belajar ilmu beladiri dari instruktur bahasa isyarat di TV, dan satu-satunya kekuatan super doi adalah “menyentuh kemaluan Jared Leto tanpa kena herpes”.

SS-(16)

Segi positifnya, doi merupakan psikiater pertama di dunia yg menemukan manfaat dari memakai ikat pinggang waktu ngga pake celana

Doi tuh ibarat Zooey Deschanel baca puisi Azgoth dari Kria; oke deh secara fisik enak diliat, tapi apaan gunanya kalo lo ngga tahan denger apapun yg keluar dari mulutnya? Soalnya jika memang pria menyukai perpaduan keindahan feminim dengan kerusakan sonik maksimal, seseorang pasti udah menghasilkan milyaran Dollar dari ngejualin fleshlight yg nempel di terompet vuvuzela.

SS-(17)

Adegan ini merupakan metafora sempurna dari kepribadian karakter Harley Quinn; sedikit percikan warna nan mengambang di tengah samudera tinja

 

 

Advertisements

5 thoughts on “THE WORSTS & WORSTS OF SUICIDE SQUAD

  1. Ha ha ha. Yang bagian Will Smith ngena banget, tuh. Begitu nonton emang Will Smith, bukan Deadshot. By the way, bikin resensi Don’t Breathe, dong, boss.

    Like

    • Harusnya sih Will Smith bisa jadi Deadshot, mengingat “dead” ama “shot” adalah dua kata yg selalu nyelip di kalimat orang kalo mereka lagi ngomongin Jaden, jadi harusnye sih die udah akrab ama itu.

      Ada apa dengan Don’t Breathe & kenape semua orang pengen liat gue ngebantainye?

      Like

  2. Soalnya gue bingung, disitu Stephen Lang jadi orang buta, tapi herannya gak sekalipun nenennya Jane Levy kepegang.

    Like

    • BULLSHIT! Seorang pria bisa ngedeteksi lokasi nenen Jane Levy sampe ke koordinat bujur lintang spesifik cukup dari alur aliran udara & perubahan temperatur di sekitarnye.

      Like

  3. Anjeeeeer, disamain sama chorusnya Linkin Park! Analoginya yahut kalee. Top, bro!

    Like

Spit it Out

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s